Orangtua zaman sekarang berada pada masa yang dinamakan milenial parents, yaitu orangtua yang memiliki ciri gaya pengasuhan yang tegas, bukan keras. Bisa pula disebut gaya pengasuhan yang berwibawa.

Tak dapat dimungkiri, cara mendisiplinkan orangtua zaman dulu nyaris selalu dalam hukuman fisik dan membentak. Barangkali, menurut mereka, bentakan serta hukuman mampu membuat anak lebih disiplin. Kenyataannya hanya hawa nafsu dan emosi, tanpa anak tahu alasannya. Anak semata menurut apa yang dikatakan orangtua.

Perlu Ayah dan Bunda ketahui, kekerasan fisik justru membuat anak kita menjadi penakut. Mereka tidak pernah tau alasan pasti, tiba-tiba bunda membentak dan memberikan hukuman fisik kepada mereka. Maka yang terjadi, anak menjadi tertutup pada orangtua. Jika kita melakukan hal tersebut, sesungguhnya anak tidak pernah mengerti atas maksud kita.

Anak akan lebih sering menghindar supaya tidak mendapatkan ancaman dari Ayah dan Bunda. Anak hanya ingin mendengarkan apa yang dikatakan orangtua. Secara tidak langsung, kita sedang mengajarkan mereka menjadi anak yang tidak jujur. Menjadi pembohong atas apa yang mereka dengar dari orantuanya.

Lantas bagaimana caranya agar dapat menyampaikan maksud kita terhadap anak tanpa membentak dan menghukum?

Pertama, jangan pernah memberikan control. Ketika mereka lupa jadwal seragam sekolah yang harus dikenakan dan bertanya kepada kita, biarkanlah mereka berfikir dan memilih baju yang dimaksud. Tanpa disadari, kita sedang memberikan dorongan kepada anak untuk berani mengambil Keputusan.

Kedua, melatih anak mendiskripsikan setiap hal yang mereka lihat. Misalnya, mengajak anak untuk bisa memahami apa yang harus mereka lakukan. Ketika anak berada di rumah paman, kakek, atau neneknya, ajak mereka untuk memberi salam kepada oarng yang lebih dewasa. Pada saat itulah kita sedang mengajarkan kepekaan terhadap anak.

Ketiga, mengapresiasi. Cintailah proses setiap apa yang telah dilakukan oleh anak tentu memerlukan semangat yang besar. Anggaplah anak seperti halnya anak. Mereka pasti pernah melakukan kesalah pada setiap hal yang mereka lakukan. Maka dari itu, hargailah proses yang telah mereka kerjakan.

Terakhir, ajarkan mereka untuk bisa mengekspresikan sesuatu. Bahwa dalam hal-hal tertentu, kitab isa menyampaikan emosi kita. Yang tidak boleh dilupakan bahwa orangtua harus memahami perkembangan anak. Anggaplah mereka sebagai anak yang sedang berproses untuk lebih baik.

Maret 1, 2025

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini