Fenomena anomali iklim global El-Nino diprediksi masih akan mencengkeram wilayah Indonesia hingga beberapa bulan ke depan. Suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah terpantau terus menghangat, menciptakan kondisi El-Nino yang memengaruhi pola distribusi curah hujan di Nusantara.
Dampaknya, musim kemarau di berbagai wilayah terasa jauh lebih panjang, menyusutkan sumber daya air, dan memicu ancaman kekeringan ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa anomali iklim ini akan bertahan setidaknya hingga awal tahun 2027.
Berdasarkan pantauan indeks El-Nino Southern Oscillation (ENSO), intensitas kejadian ini tergolong sangat kuat, yang berdampak langsung pada penundaan transisi musim di Indonesia. Situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra, khususnya di wilayah agraris dan daerah yang rentan terhadap defisit pasokan air.
Lantas, kapan musim hujan akan benar-benar tiba di Indonesia? Penantian masyarakat akan turunnya hujan tampaknya masih membutuhkan kesabaran. BMKG menyatakan bahwa awal musim hujan tahun 2026/2027 akan terjadi secara bertahap dan dipastikan mengalami keterlambatan dari siklus normal klimatologisnya di sebagian besar zona musim Indonesia.
Keterlambatan datangnya musim hujan ini mengharuskan pemerintah pusat dan daerah untuk segera melakukan langkah mitigasi yang komprehensif. Mulai dari penyesuaian jadwal tanam bagi para petani, pengelolaan cadangan air di bendungan, hingga antisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh kekeringan berkepanjangan akibat fenomena El-Nino ini.
Awal Musim Hujan Mundur di Mayoritas Wilayah
Berdasarkan data yang dirilis oleh BMKG, awal musim hujan diprediksi datang lebih lambat dari kondisi normal pada periode 1991-2020. Penundaan ini terjadi di 529 zona musim atau sekitar 61,08 persen dari total luas daratan Indonesia.
Meskipun mundur, kedatangan musim hujan akan terjadi secara bertahap. Sebagian besar wilayah Indonesia diproyeksikan baru akan mulai memasuki musim penghujan pada periode bulan November 2026. Pada fase ini, sekitar 185 zona musim atau 24,66 persen wilayah daratan Indonesia akan mulai diguyur hujan.
Fase selanjutnya akan menyusul pada bulan Desember 2026. Pada periode tersebut, curah hujan diperkirakan mulai merata ke 266 zona musim tambahan, yang mencakup sekitar 17,31 persen wilayah lainnya di Indonesia.
Puncak Musim Hujan Tidak Serentak
Selain awal musim yang mundur, BMKG juga memprediksi bahwa puncak musim hujan di Indonesia tidak akan terjadi secara bersamaan di seluruh daerah. Puncak intensitas hujan tertinggi diperkirakan akan tersebar antara akhir tahun 2026 hingga awal tahun 2027.
Rincian prediksi puncak musim hujan berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut:
-
Desember 2026: Diprediksi menjadi puncak musim hujan bagi 155 zona musim (36,94 persen wilayah).
-
Januari 2027: Diprediksi menjadi puncak musim hujan bagi 162 zona musim (25,68 persen wilayah).
-
Februari 2027: Diprediksi menjadi puncak musim hujan bagi 190 zona musim (16,79 persen wilayah).
Sedangkan untuk prediksi curah hujan pada rentang November 2026 hingga Januari 2027 secara umum, BMKG mencatat sebagian besar wilayah (73,15%) akan mengalami curah hujan kategori rendah, 23,79% kategori menengah, dan hanya sebagian kecil yang mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi.
Ancaman Kekeringan di Tengah El-Nino Kuat
Bertahannya El-Nino yang diindikasikan dengan tingginya nilai anomali Suhu Muka Laut (SST) di wilayah Nino3.4 (mencapai +3.33 pada dasarian I Oktober 2026) membawa risiko kekeringan yang nyata. Beberapa daerah, seperti Kalimantan Timur, telah mendapat peringatan dini (alarm) kekeringan.
Di wilayah tersebut, durasi musim hujan diprediksi akan berlangsung lebih singkat. Kondisi ini berpotensi memicu krisis pasokan air sungai, mengganggu jadwal tanam sektor pertanian, serta meningkatkan eskalasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa mundurnya musim hujan juga menghadirkan peluang yang harus dioptimalkan.
Ketika musim hujan akhirnya tiba, momen tersebut harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memulihkan area tanam pertanian dan mengisi kembali kapasitas bendungan, danau, maupun waduk yang sempat menyusut drastis selama kemarau panjang.
Masyarakat dan pemangku kebijakan diharapkan terus memantau pemutakhiran informasi iklim bulanan dari BMKG guna keperluan operasional dan mitigasi bencana di lapangan.
