Pergantian tahun baru Islam atau Hijriah selalu menjadi momentum spiritual yang sarat makna bagi umat Muslim. Momen ini bukan sekadar pergantian kalender numerik, melainkan waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah) secara mendalam atas segala amal perbuatan dan kekhilafan selama satu tahun ke belakang.

Tahun ini, 1 Muharram jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Mengingat dalam tradisi kalender qamariyah Islam pergantian hari dihitung sejak terbenamnya matahari, maka petang hari di ujung bulan Dzulhijjah menjadi saat yang sangat krusial untuk menengadahkan tangan memohon ampunan kepada Allah SWT sebelum memasuki lembaran tahun yang baru.

Salah satu amalan yang secara konsisten dianjurkan oleh para ulama untuk menyempurnakan muhasabah ini adalah membaca doa akhir tahun. Menyesuaikan dengan momentum saat ini, umat Islam sangat disarankan untuk melantunkan doa tersebut pada waktu yang spesifik, yakni pada Senin sore 15 Juni 2026, menjelang azan Maghrib berkumandang.

Doa ini tidak hanya berfungsi sebagai jembatan permohonan ampun atas kelalaian masa lalu, tetapi juga sebagai wujud penyerahan diri dan harapan agar setiap kebaikan yang telah diikhtiarkan diterima oleh Yang Maha Kuasa.

Lafal Doa Akhir Tahun: Arab, Latin, dan Terjemahan

Berikut adalah lafal doa akhir tahun yang lazim dibaca oleh umat Islam:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ، وَنَسِيتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلُمْتَ عَنِّي مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي، وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِي عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِي. اللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّي، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Latin: Bismillâhir-rahmânir-rahîm. Wa shallallâhu ta’âlâ ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihî wa shahbihî wa sallam. Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fis-sanatil mâdhiyati mimmâ nahaitanî ‘anhu falam atub minhu wa lam tardhahu, wa nasîtuhû wa lam tansahu, wa halumta ‘annî ma’a qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da’autanî ilat-taubati ba’da jarâ’atî ‘alaik. Allâhumma innî astaghfiruka minhu faghfir lî. Allâhumma wa mâ ‘amiltu min ‘amalin tardhâhu wa wa’adtanî ‘alaihits-tsawâba wal-ghufrâna fataqabbalhu minnî, wa lâ taqtha’ rajâ’î minka yâ karîm, yâ arhamar-râhimîn. Wa shallallâhu ta’âlâ ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihî wa shahbihî wa sallam.

Artinya:”Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau. Ya Allah, apa saja amalan yang telah aku lakukan sepanjang tahun yang lalu, yang Engkau larang aku melakukannya, namun aku belum bertobat darinya dan Engkau pun tidak meridhainya, dan aku telah melupakannya tetapi Engkau tidak lupa, Engkau masih berlembut kepadaku meskipun Engkau mampu menghukumku, dan Engkau telah menyeruku untuk bertobat setelah aku berani melakukan maksiat kepada-Mu. Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu darinya, maka ampunilah aku. Ya Allah, dan apa pun amal yang telah aku lakukan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan untukku pahala dan ampunan, maka terimalah amal itu dariku, dan jangan putuskan harapanku kepada-Mu, wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Maha Penyayang dari para penyayang. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, serta keluarga dan sahabat beliau.”

Penjelasan Ulama

Meskipun doa akhir tahun tidak didasarkan pada dalil hadis spesifik secara langsung dari Rasulullah SAW, amalan ini sangat dianjurkan dan telah dipraktikkan secara turun-temurun. Hal ini bersandar pada prinsip kebolehan berdoa kapan saja dengan susunan lafal yang baik, terlebih dalam momen muhasabah di akhir tahun.

Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus al-Makki asy-Syafi’i (wafat 1335 H) secara tegas mencatat doa ini dalam kitabnya yang masyhur, Kanzun Najah wa As-Surur. Dalam kitab tersebut, beliau mengutip dari Syekh Umar bin Qudamah Al-Maqdisi yang menuturkan bahwa para ulama dan guru-guru mereka senantiasa mewasiatkan dan mengamalkan doa ini sepanjang hidup.

Di Nusantara, anjuran ini juga diperkuat oleh Mufti Jakarta pada abad ke-19 hingga 20 M, yakni Habib Utsman bin Yahya. Beliau turut mencantumkan lafal doa akhir tahun ini dalam kitab karyanya yang berjudul Maslakul Akhyar, sehingga menjadikannya amalan yang memasyarakat di Indonesia.

Fadhilah dan Keutamaan Doa Akhir Tahun

Membaca doa akhir tahun tidak sekadar menjadi rutinitas pergantian kalender, tetapi memuat esensi spiritual yang sangat mendalam. Berdasarkan rujukan dari para ulama serta kandungan makna dari lafal doa itu sendiri, berikut adalah fadhilah atau keutamaan membaca doa akhir tahun:

1. Membuat Setan Putus Asa

Ini adalah fadhilah utama yang ditegaskan oleh Syekh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Najah wa As-Surur. Ketika seseorang membaca doa ini dengan sungguh-sungguh sebanyak tiga kali, setan akan mengeluh dan merasa usahanya sia-sia. Setan berkata, “Kesibukan kita bersamanya sepanjang tahun menjadi rusak dan sia-sia hanya dalam waktu sesaat.” Doa ini menghancurkan jerat godaan yang telah dibangun setan selama setahun penuh.

2. Meraih Ampunan atas Dosa Setahun Silam (Maghfirah)

Secara tersurat, lafal doa akhir tahun memuat kalimat pengakuan akan dosa, kealpaan, dan pelanggaran terhadap larangan Allah SWT yang dilakukan sepanjang tahun. Membacanya merupakan bentuk istighfar (permohonan ampun) secara total, memohon agar Tuhan menghapus dosa-dosa yang bahkan manusia sendiri mungkin telah melupakannya.

3. Memohon Diterimanya Amal Saleh

Selain memohon ampun, doa ini berfungsi sebagai media penyempurna amal ibadah. Terdapat kalimat permohonan agar Allah SWT berkenan menerima segala amal kebaikan yang telah dikerjakan, sekecil apa pun itu, serta memohon agar janji pahala dari-Nya benar-benar ditunaikan.

4. Meneguhkan Harapan (Raja’) kepada Allah SWT

Terdapat penggalan doa yang berbunyi “wa lâ taqtha’ rajâ’î minka” yang bermakna “dan janganlah Engkau putuskan harapanku kepada-Mu”. Fadhilah dari bagian ini adalah menjaga optimisme spiritual. Meskipun menyadari diri bergelimang dosa, seorang hamba diajarkan untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah di tahun-tahun mendatang.

5. Manifestasi Muhasabah Spiritual

Membaca doa ini melatih jiwa untuk terbiasa melakukan evaluasi diri (muhasabah). Dengan mengurai kembali apa yang telah dikerjakan setahun ke belakang, seseorang didorong untuk menata kembali niatnya, menyadari kelemahannya, dan berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih bertaqwa pada tahun yang baru.

Secara keseluruhan, fadhilah doa akhir tahun berfokus pada upaya pembersihan diri dari dosa masa lalu sekaligus menjadi fondasi niat yang bersih sebelum melangkah memasuki tahun baru Hijriah. Keutamaan ini tentu akan diraih secara maksimal apabila doa dilantunkan dengan hati yang khusyuk dan penuh penyerahan diri.

Juni 15, 2026

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini