“Materi dari Dinkes meliputi HIV, kesehatan reproduksi remaja, stunting, kemudian kami juga menyisipkan materi tentang bullying. Kenapa bullying? Karena banyak kejadian di daerah lain sehingga menjadi perhatian khusus. Kami ingin mengantisipasi agar hal itu tidak terjadi di Tulungagung. Harapan kami, anak-anak baru ini mengawali perjalanan mereka di SMA dengan kenangan yang baik, bukan justru menjadi korban maupun pelaku bullying,” jelasnya.
Desi menambahkan, edukasi kesehatan sejak awal masa sekolah diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan para remaja sehingga mereka lebih bijak dalam mengambil keputusan, menerapkan pola hidup sehat, serta memahami risiko berbagai penyakit maupun perilaku yang dapat merugikan masa depan.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Kedungwaru, Khabib Soleh, mengapresiasi dukungan Dinas Kesehatan yang secara langsung memberikan pembekalan kepada peserta didik baru. Menurutnya, materi tersebut sangat relevan dengan kebutuhan remaja saat ini.
“Hari kedua MPLS ini memang sudah kami agendakan bersama Dinkes untuk penyampaian materi kesehatan, terutama bagi anak remaja. Salah satunya tentang ancaman diabetes pada usia sekolah yang bahkan bisa berujung pada gagal jantung. Penyebabnya salah satunya pola makan anak-anak yang gemar mengonsumsi minuman instan. Kalau mereka tidak mendapatkan edukasi seperti ini, tentu dampaknya bisa semakin parah,” katanya.
Ia berharap, melalui kegiatan tersebut para siswa tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan diri, menghargai sesama, serta menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun kolaborasi antara Dinas Kesehatan dan dunia pendidikan, Pemerintah Kabupaten Tulungagung terus memperkuat upaya promotif dan preventif di kalangan pelajar.
Edukasi yang diberikan sejak hari pertama memasuki sekolah diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi muda yang sehat, cerdas, dan mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman dengan pengetahuan yang benar
