Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Amran Sulaiman mengungkap skandal peredaran beras fortifikasi palsu di pasaran Indonesia. Hal ini sontak membuat publik bertanya-tanya, apa itu beras fortifikasi dan bedanya dengan beras biasa.

Secara konsep dasar, beras fortifikasi sejatinya merupakan produk pangan inovatif yang telah diperkaya oleh nutrisi tambahan berupa vitamin dan mineral, yang secara khusus diperuntukkan bagi peningkatan kesehatan kelompok rentan gizi.

Sayangnya, hasil evaluasi dari pemerintah secara tegas menunjukkan bahwa puluhan merek beras komersial tersebut sama sekali tidak memenuhi kelayakan standar penambahan zat gizi mikro yang diwajibkan oleh aturan perundang-undangan.

Skandal penipuan terencana ini tentu sangat merugikan masyarakat luas karena beras yang seharusnya digunakan untuk menekan angka stunting ini justru sengaja dijual dengan harga fantastis demi meraup besarnya keuntungan sepihak.

Mengenal Beras Fortifikasi dan Manfaat Kesehatannya

Beras fortifikasi diciptakan sebagai salah satu solusi strategis untuk mengatasi masalah gizi masyarakat, khususnya fenomena hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Secara teknis, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mendefinisikan beras fortifikasi sebagai beras sosoh premium atau medium yang telah dicampur dengan kernel beras fortifikan.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 9314 2024, nutrisi mikro yang wajib ditambahkan ke dalam beras ini meliputi Vitamin B1, Asam Folat (Vitamin B9), Vitamin B12, Zat Besi, dan Seng (Zinc).

Proses fortifikasi ini umumnya menggunakan teknologi ekstrusi panas. Dalam praktiknya, debu beras dicampur dengan berbagai vitamin dan mineral, kemudian dicetak kembali menjadi butiran mirip beras asli (kernel), untuk selanjutnya dicampur dengan beras biasa menggunakan rasio 1:100.

Inovasi penambahan nutrisi mikro ini dirancang khusus agar tidak mengubah rasa, aroma, warna, maupun tekstur nasi saat matang. Secara medis, konsumsi beras fortifikasi secara rutin terbukti secara ilmiah mampu meningkatkan kadar hemoglobin, menekan angka stunting pada anak, serta mencegah anemia pada ibu hamil.

Skandal Pemalsuan dan Manipulasi Harga Ekstrem

Meski dirancang dengan tujuan mulia untuk menekan angka gizi buruk, program penyediaan pangan sehat ini justru dimanfaatkan oleh oknum produsen nakal.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menyatakan bahwa dari 27 merek yang dievaluasi secara cermat oleh pemerintah, 25 merek di antaranya dinyatakan Tidak Memenuhi Standar (TMS). Beras-beras tersebut terbukti tidak mengandung tambahan gizi mikro sesuai dengan spesifikasi kesehatan yang ditetapkan.

Modus penipuan ini juga diperparah dengan manipulasi harga jual yang ekstrem di tingkat konsumen. Beras subsidi yang semestinya dijual seharga Rp13.000 per kilogram, justru dibanderol dengan harga melangit hingga menyentuh angka Rp57.000 per kilogram.

Praktik culas ini memberikan celah keuntungan tidak wajar hingga mencapai Rp44.100 per kilogram bagi pihak produsen. Sebagai respons tegas, pemerintah akan segera menarik seluruh produk tersebut dari peredaran, mencabut izin edarnya, serta memproses langkah hukum terkait tindak pidana penipuan.

Daftar 25 Merek Beras Fortifikasi yang Dinyatakan Palsu

Berdasarkan rilis resmi dari Kementerian Pertanian, berikut adalah daftar 25 merek beras yang dinyatakan palsu atau tidak memenuhi standar fortifikasi gizi:

  1. Idola Fortifikasi
  2. Idola High Quality Whole Grain Rice
  3. Idola Long Grain Rice
  4. Ikan Mas Cupang
  5. AAA Wijaya Kusuma
  6. Cantik Manis
  7. Penari Bangkok
  8. Topi Koki Short Grain
  9. Topi Koki Setra Royale
  10. Topi Koki Long Grain Crystal
  11. HOK-1 Gohan
  12. Maknyuss Pulen Gizi
  13. Anak Raja Fortifikasi
  14. Anak Raja Nusantara
  15. Top Anak Raja
  16. PMS Induk Ayam
  17. Sumo
  18. Rasvit
  19. FS Nutri Rice
  20. Pelikan
  21. Rice Rojolele
  22. Super Kepala Beras Premium 111
  23. 111 Golden Number
  24. Putri Koki
  25. Well Farm Beras Diabet

Kasus penipuan gizi ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat luas untuk lebih waspada dan cermat dalam memilih produk berlabel khusus gizi. Apabila beras fortifikasi asli sulit ditemukan di pasaran, pemenuhan gizi keluarga dapat disiasati melalui penerapan menu bergizi seimbang atau bantuan konsumsi suplemen tambahan.

Selain itu, masyarakat juga sangat dianjurkan untuk tidak mencuci beras terlalu bersih hingga berulang-ulang, guna mencegah larutnya nutrisi alami yang masih menempel pada permukaan beras.

September 15, 2026

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini