Wakil Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, S.M., secara resmi membuka kegiatan Rembug Stunting Kabupaten Tulungagung Tahun 2025 dengan tema “Evaluasi Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Tulungagung Tahun 2025”.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Prajamukti Kantor Bupati Tulungagung, pada Senin, 22 Desember 2025.

Rembug Stunting ini diselenggarakan sebagai forum evaluasi akhir tahun untuk mengidentifikasi berbagai hambatan dan kendala dalam pelaksanaan program percepatan penurunan stunting, sekaligus merumuskan solusi strategis sebagai pijakan kebijakan dan aksi pada tahun 2026, dengan target menekan angka stunting hingga nol persen di Kabupaten Tulungagung.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas KB dan PPPA Kabupaten Tulungagung, Ketua Pokja IV TP PKK Kabupaten Tulungagung, serta narasumber dari Dinas KB dan PPPA.

Sebanyak 120 peserta turut mengikuti Rembug Stunting ini, yang terdiri dari perwakilan puskesmas, Kasi Kesehatan Masyarakat, PLKB, serta para pemangku kepentingan yang selama ini berperan aktif dalam upaya penurunan angka stunting.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Tulungagung menegaskan bahwa stunting merupakan persoalan serius yang berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia dan keberlanjutan pembangunan daerah. Oleh karena itu, penanganan stunting harus menjadi agenda prioritas daerah yang dilaksanakan secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan.
“Berdasarkan hasil penimbangan balita, prevalensi stunting di Kabupaten Tulungagung menunjukkan tren yang membaik. Pada Oktober 2025 tercatat sebesar 5,51 persen, dan pada November 2025 menurun menjadi 5,38 persen. Capaian ini adalah hasil kerja keras bersama, namun bukan titik akhir. Kita tidak boleh lengah, karena satu anak stunting pun adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Wakil Bupati juga mengungkapkan masih adanya ketimpangan prevalensi stunting antar kecamatan, seperti Kecamatan Bandung, Gondang, dan Kauman yang masih berada di atas rata-rata kabupaten. Sementara kecamatan lain seperti Besuki, Sumbergempol, Karangrejo, dan Kedungwaru menunjukkan capaian yang relatif baik dan stabil. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data dan fokus wilayah.

Melalui forum Rembug Stunting ini, Wakil Bupati memberikan beberapa arahan penting, di antaranya meminta seluruh perangkat daerah menguatkan aksi konvergensi dan menghilangkan ego sektoral, mendorong rumah sakit daerah agar berperan aktif tidak hanya secara kuratif, tetapi juga promotif dan preventif, mengajak BUMD dan perusahaan untuk terlibat lebih nyata melalui program CSR yang terarah pada wilayah lokus stunting, menegaskan peran strategis puskesmas, penyuluh KB, kader posyandu, dan pendamping keluarga sebagai garda terdepan penanganan stunting, serta memperkuat sinergi dengan Badan Gizi Nasional dalam intervensi gizi spesifik dan edukasi keluarga.

“Keberhasilan penurunan stunting tidak diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari perubahan nyata di lapangan. Kecamatan dan desa dengan prevalensi tinggi harus menjadi prioritas utama, sementara praktik baik harus direplikasi secara berkelanjutan,” tambahnya.

Di akhir sambutan, Wakil Bupati berharap Rembug Stunting ini mampu menghasilkan kesepakatan konkret, langkah tindak lanjut yang jelas, serta komitmen bersama untuk mempercepat penurunan stunting di Kabupaten Tulungagung.
(Pri/PROKOPIM TULUNGAGUNG)

Desember 22, 2025

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini