Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) secara resmi menetapkan bahwa awal bulan Rajab 1447 H jatuh pada Senin, 22 Desember 2025. Merujuk situs nu..or.id, keputusan ini tertuang dalam pengumuman nomor 110/PB.08/A.II.11.13/13/12/2025 setelah tim rukyatulhilal di 21 titik seluruh Indonesia melaporkan bahwa hilal tidak terlihat pada Sabtu (20/12/2025).

Oleh karena itu, bulan Jumadal Akhirah digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga tanggal 1 Rajab dimulai pada Senin Pon yang terhitung sejak Minggu malam.

Secara teknis, data hisab LF PBNU menunjukkan tinggi hilal pada Sabtu lalu sebenarnya sudah mencapai 3 derajat 20 menit 16 detik dengan elongasi 6 derajat 21 menit 34 detik di markaz Jakarta. Meskipun secara perhitungan (hisab) posisi hilal sudah berada di atas kriteria minimal, namun karena tidak ada satu pun lokasi yang berhasil memvalidasi penampakan hilal secara visual, LF PBNU tetap berpegang pada metode rukyat.

Di antara amalan yang sangat terkait dengan kalender Hijriah adalah jadwal puasa di bulan Rajab atau seringkali disingkat puasa Rajab. Berikut ini adalah ulasan mengenai jadwal puasa Rajab dan bacaan niat dan doa buka puasa.

Jadwal Puasa Sunnah Rajab versi LF PBNU

1. Puasa Sunnah Mutlak (Kapan Saja)

Puasa sunnah mutlak di bulan Rajab bisa dilakukan kapan saja selama tidak pada hari yang dilarang (seperti hari raya). Puasa Sunnah Rajab atau sering disebut puasa Rajab dimulai pada hari ini, Minggu 21 Januari 2025, yang merupakan tanggal 1 Rajab 1447 Hijriah.

Namun, ada beberapa tanggal yang sering diutamakan oleh umat Muslim karena nilai sejarahnya:

  • Senin, 22 Desember 2025 (1 Rajab 1447 H – Awal bulan)
  • Sabtu, 17 Januari 2026 (27 Rajab 1447 H – Peringatan Isra Mikraj)

Bacaan Niat Puasa Rajab

Niat dapat dilakukan di dalam hati, namun dianjurkan untuk dilafalkan:

 نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَجَبَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma syahri rajaba sunnatan lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa bulan Rajab, sunnah karena Allah ta’âlâ.”

Atau dengan lafal yang sederhana,

نَوَيْتُ صَوْمَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma sunnatan lillahi ta’ala

Artinya: Saya berniat puasa sunnah karena Allah Ta’ala

2. Puasa Senin Kamis

Puasa rutin mingguan yang sangat dianjurkan:

  • Senin, 22 Desember 2025 (1 Rajab 1447 H)
  • Kamis, 25 Desember 2025 (4 Rajab 1447 H)
  • Senin, 29 Desember 2025 (8 Rajab 1447 H)
  • Kamis, 1 Januari 2026 (11 Rajab 1447 H)
  • Senin, 5 Januari 2026 (15 Rajab 1447 H)
  • Kamis, 8 Januari 2026 (18 Rajab 1447 H)
  • Senin, 12 Januari 2026 (22 Rajab 1447 H)
  • Kamis, 15 Januari 2026 (25 Rajab 1447 H)
  • Senin, 19 Januari 2026 (29 Rajab 1447 H – Akhir Rajab)

Bacaan Niat Puasa Senin Kamis

Niat Puasa Hari Senin:

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma yaumil itsnaini lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari Senin karena Allah ta’âlâ.”

Niat Puasa Hari Kamis:

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الخَمِيْسِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma yaumil khamîsi lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari Kamis karena Allah ta’âlâ.”

3. Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Rajab)

Puasa di pertengahan bulan Hijriah saat bulan purnama:

  • Sabtu, 3 Januari 2026 (13 Rajab 1447 H)
  • Ahad, 4 Januari 2026 (14 Rajab 1447 H)
  • Senin, 5 Januari 2026 (15 Rajab 1447 H)

Bacaan Niat Puasa Ayyamul Bidh

نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ayyâmil bîdl sunnatan lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari-hari putih karena Allah ta’âlâ.”

Tata Cara Umum Pelaksanaan Puasa Sunnah

Tata cara puasa sunnah secara umum sama dengan puasa Ramadhan, namun memiliki sedikit perbedaan pada fleksibilitas niat:

  1. Niat: Utama dilakukan pada malam hari. Namun, untuk puasa sunnah, jika lupa, niat boleh dilakukan pada pagi/siang hari (sebelum masuk waktu Dzuhur) selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa.
  2. Sahur: Dianjurkan untuk menyantap sahur demi kekuatan fisik.
  3. Menahan Diri: Menjaga diri dari makan, minum, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
  4. Menjaga Lisan & Hati: Menghindari berkata kasar, ghibah, dan emosi agar pahala puasa sempurna.
  5. Berbuka: Menyegerakan berbuka saat adzan Maghrib berkumandang.

Doa Buka Puasa di Bulan Rajab

1. Doa Buka Puasa Riwayat Abdullah bin Umar RA

Merujuk Kitab Fathul Mu’in karya Ahmad Zainuddin Alfannani dan Hasyiyah Iqna karya Sulaiman Bujairimi berikut ini adalah bacaan doa buka puasa, termasuk puasa Ayyamul Bidh yang dibaca Rasulullah SAW.

Berikut ini adalah bacaan doa buka puasa seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Umar RA.

ذَهَبَ الظّـَمَأُ وَابْتَلّـَتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Latin: Dhahaba zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru in syaa Allah

Artinya: Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki.

Doa buka puasa Rasulullah ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظّـَمَأُ وَابْتَلّـَتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Artinya: Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam apabila telah berbuka puasa, beliau berdoa: “Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki.” Hadits Hasan, [HR. Abu Daud no. 2357].

2. Doa Buka Puasa Riwayat Muadz bin Zuhrah RA

Ada pula doa buka puasa yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Zuhrah. Berikut bacaannya:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Latin: Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu

Artinya: Ya Allah hanya untuk-Mu kami berpuasa dan atas rezeki yang Engkau berikan kami berbuka.

Doa ini diriwayatkan dari Nabi ﷺ melalui beberapa jalur, di antaranya:

Hadis dari Mu‘adz bin Zuhrah, disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Adalah Nabi ﷺ apabila berbuka beliau membaca: ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu.’” (HR. Abu Dawud, no. 2358).

Namun, hadis ini dinilai mursal (terputus sanadnya) karena Mu‘adz bin Zuhrah tidak mendengar langsung dari Nabi. Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud mencantumkan hadis ini tanpa menyatakan kesahihannya, dan sebagian ulama menilai sanadnya lemah (dhaif).

Namun, Imam an-Nawawi dalam al-Adzkâr menyatakan hadis ini meskipun mursal, telah diamalkan oleh banyak ulama salaf dan khalaf (generasi awal dan setelahnya).

“Maka doa ini boleh diamalkan karena isinya baik dan tidak bertentangan dengan dalil sahih.” demikian tulis Imam Nawawi di Kitab Al-Adzkar.

3. Doa Buka Puasa Populer di Indonesia (Gabungan)

Doa berbuka puasa paling banyak diamalkan di Indonesia adalah gabungan dari dua doa di atas. Berikut ini lafal doanya:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمأُ وابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأجْرُ إِنْ شاءَ اللَّهُ تَعالى

Latin: Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu dzahaba-dh-dhama’u wabtalatil ‘urûqu wa tsabatal ajru insyâ-allâh ta‘âlâ

Artinya: Ya Allah, untuk-Mulah aku berpuasa, atas rezekimulah aku berbuka. Telah sirna rasa dahaga, urat-urat telah basah, dan (semoga) pahala telah ditetapkan, insyaaallah.

Dalam Kitab Fathul Muin dijelaskan, “Disunnahkan membaca doa setelah selesai berbuka “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika aftharthu” dan bagi orang yang berbuka dengan air ditambahkan doa: “Dzahabadh dhamâ’u wabtalatl-‘urûqu wa tsabata-l-ajru insyâ-a-Llâh,” (Fath al-Mu’in, juz 2, hal. 279).

Bahwa ketentuan doa berbuka puasa yang baik adalah membaca doa sesuai dengan lafal doa dalam hadis riwayat sahabat Mu’adz bin Zuhrah di atas. Sedangkan lafal doa dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ditambahkan ketika seseorang berbuka dengan menggunakan air.

Namun demikian, nyaris tak ada orang berbuka puasa hanya berupa makanan tanpa minuman, kecuali sangat terdesak. Sehingga, bacaan yang sering kita dapati adalah penggabungan doa dari hadis tersebut.

4. Doa Buka Puasa Syekh Bujairimi

Dalam Hasyiyah Iqna, Syekh Sulaiman Bujairimi memaparkan doa berbuka puasa. Berikut ini bacaanya:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

Latin: Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu, wa bika amantu, wa bika ‘alaika tawakkalatu, dzahabadzh dzhama-u wabtalatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insyaa-Allah. Ya wasi’al-fadhli ighfirli alhamdulillahilladzi hadani fashumtu, wa razaqani fa-afthartu.

Artinya: Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah dan Insyaallah pahala sudah tetap. Wahai Dzat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.

Desember 21, 2025

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini Klik Gambar Ini