Cyberbullying (perundungan siber atau intimidasi melalui perangkat elektronik) telah menjadi masalah serius di era digital ini, terutama di kalangan remaja. Fenomena ini dapat berdampak sangat negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan korban.
“Pernah kena perundungan di sosmed karena fisik aku, tapi aku nggak ladenin,” ucap Kumala Dwi, seorang mahasiswa di kota Tanjungpinang, Senin (5/5/2025).
Penelitian besar-besaran oleh Oxford Internet Institute menganalisis data dari lebih dari 2 juta individu di 168 negara, menunjukkan bahwa 84,9% hubungan antara penggunaan internet dan kesejahteraan psikologis bersifat positif dan signifikan secara statistik. Namun, terdapat pengecualian pada perempuan muda berusia 15–24 tahun, yang melaporkan penurunan kesejahteraan komunitas, kemungkinan akibat paparan terhadap perundungan siber atau tekanan sosial di media digital.
Kehidupan remaja yang labil dan rentan terhadap pengaruh dapat membuat mereka lebih mudah terpengaruh oleh kekerasan, terutama dalam bentuk perundungan siber. Beberapa langkah dapat dilakukan untuk menghindari cyberbullying dan menjaga kesehatan mental di dunia digital
Langkah pertama yaitu, mengatur akun media sosial menjadi privat, hanya terima permintaan pertemanan dari orang yang benar-benar dikenal. Hindari membagikan informasi pribadi, seperti, alamat, nomor HP, lokasi, dan lainnya.
Selanjutnya, pilih lingkungan digital yang sehat dengan bergabung bersama komunitas online yang positif dan mendukung. Unfollow atau mute akun-akun yang menimbulkan stres atau perasaan negatif.
Kemudian, jangan ragu untuk memblokir, mute, atau melaporkan akun yang mengirim pesan negatif, kasar, atau melecehkan. Semua platform besar, seperti, Instagram, TikTok, dan Facebook menyediakan fitur ini.
Jika terjadi perundungan, simpan tangkapan layar (screenshot) sebagai bukti. Bukti ini bisa penting jika ingin melaporkan ke pihak sekolah, keluarga, atau bahkan penegak hukum.
Tidak membalas komentar jahat dengan kemarahan, karena itu justru bisa memicu lebih banyak serangan. Lebih baik abaikan dan lakukan tindakan teknis, seperti, blokir.
Ingatkan diri bahwa nilai tidak ditentukan oleh komentar orang lain. Hindari membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, karena banyak yang hanya menampilkan sisi terbaik saja.
Ceritakan kepada orang yang dipercaya (orang tua, guru, sahabat, atau konselor). Sebaiknya tidak memendam sendiri, karena dengan berbicara bisa membantu meringankan beban emosional.
Aktifkan filter komentar otomatis, penyaringan kata kasar, atau fitur mode tenang (quiet mode) jika tersedia. Beberapa platform juga memiliki AI pendeteksi pelecehan yang bisa diaktifkan.
